ANDALAH PENGUSAHA AGRIBISNIS

Just another WordPress.com weblog

MANFAAT DAN PENGOLAHN BUAH SIRSAK January 13, 2010

Filed under: Uncategorized — aziz13111991 @ 9:35 am

Buah sirsak, selain bentuk segar dapat dimanfaatkan menjadi bahan olahan lain yang memiliki nilai tambah lebih besar.

Cara pengolahan buah sirsak umumnya masih sederhana dan dalam lingkup industri rumah tangga. Akibatnya , hasil akhir yang diperoleh belum mampu menembus pasar secara luas .

Beberapa jenis olahan buah sirsak antara lain sebagai berikut :
1.         Dodol Sirsak

Bahan :

ü      Buah sirsak masak

ü      Panili

ü      Santan kental

ü      Gula pasir

ü      Pewarna

Pembuatan :

Daging buah sirsak yang telah dibuang bijinya dicampur dengan gula pasir dan santan. Kemudian diaduk rata dan dipanaskan. Tambahkan panili secukupnya dan aduk hingga hancur dan mengental agak kering. Agar menarik dapat diberi warna ke dalamnya. Angkat wadah dan dinginkan maka dodol siap dihidangkan.

2. Selai sirsak

Bahan :

ü      Sirsak masak 1 kg

ü      Natrium benzoate secukupnya

ü      Gula pasir setengah kilogram

ü      Pewarna secukupnya

Pembuatan : kupas buah sirsak dan buang bijinya . peras dan remas- remas daging sirsak tersebut hingga air keluar. Air tersebut dimasak hingga mengental dan dicampur gula pasir, natrium benzoate, dan pewarna. Setelah mengental panic diangkat dan didinginkan. Untuk menyimpannya dapat dimasukkan ke dalam botol bersih lalu ditutup rapat.

3. sirup sirsak

Bahan :

ü      Buah sirsak masak ½ kg

ü      Gula pasir ½ kg

ü      Air bersih ½ liter

Pembuatan : buah sirsak dikupas dan bijinya dibuang. Siapkan panic dan masukkab air beserta gula ke dalamnya. Masak hingga kental seperti sirup. Setelah itu masukkan sirsak ke dalamnya. Panic diangkat dan didinginakn selama 2-3 hari. Untuk penggunaannya, saringlah air menggunakan penyaring halus lalu tuangkan ke dalam gelas. Sirup siap dihidangkan.

4. Manisan sirsak

Bahan :

ü      Daging buah sirsak matang 1 kg

ü      Gula pasir 1 kg

ü      Asam sitrat 1 gram

ü      Garam meja 1 gram

Proses pembuatan :

Pencucian buah : buah dicuci bersih dengan menggunakan air sehingga segala kotoran dan serangga yang menempel di kulit buah hiang.

Pengupasan : buah yang telah dicuci bersih dikupas dan di keluarkan bijinya menggunakan sendok atau garpu.

Pencampuran : daging buah yang telah bersih dimasukkan ke dalam wadah dan dicampur dengan gula pasir, asam sitrat, dan garam dapur sambil diaduk- aduk menggunakan kayu pengaduk agar merata.

Pengentalan (pemanasan) : campuran buah sirsak dengan bumbu- bumbunya dituangkan ke dalam bejana pemanas untuk dikentalkan pada suhu 80o dan diaduk- aduk hingga warna campuran berwarna kuning kemerahan dan mengental.

Pengeringan : untuk mengeraskan campuran bahan yang telah dipekatkan agar tahan lama dan dapat dibungkus.

Pembungkusan : menggunakan kertas minyak, yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Kualitas manisan sirsak yang telah jadi harus memiliki sifat- sifat khusus, yaitu :

–          warna : kuning kemerahan

–          bentuk : padat dan bersih

–          kadar gula : minimal 50%

–          kadar air : ± 10 %

–          logam berbahaya : negative

–          jamur dan ragi : negative

5. anggur sirsak

a. pembuatan starter :

sirsak starter diperlukan untuk fermentasi. Dibuar dengan memperbanyak sel khamir (Sacharomyces cereviceae) yang ditumbuhkan dalam media starter.

Caranya : satu ons kultur murni diinokulasi ke dalam 10 ml sari buah steril pada suhu 25-300 selama 24 jam. Hasilnya bias digunakan untuk menginokulasi 200 ml sari buah.

b. pengukusan

buah sirsak dikukus untuk mengurangi rasa sepat pada suhu 90-100o selama 5- 10 menit, kemudian diblender hingga hancur.

c. pemerasan :

setelah diblender kemudian diperas hingga keluar sari buahnya dan disaring.

d. pencampuran :

sari buah dengan starter sebanyak 2% – 5% , gula 20 %, natrium metabisulfit 150 ppm.

e. pasteurisasi I :

bahan tercampur tersebut dipasteurisasi dalam suhu 70o, Selama 10- 15 hari.

f. fermentasi

proses fermentasi hasil pasteurisasi dilakukan pada suhu 22-30 selama 10 hari

g. pasteurisasi II :

setelah hari ke 11, dilakukan pasteurisasi ulang pada suhu 70o selama 1 jam, bertujuan untuk mematikan bakteri perusak.

h. penjernihan :

penjernihan dilakukan pada pemusingan atau menggunakn bahan kimia bentonit dan gelatin.

i. pemeraman :

pemeraman dilakukan selama 3 bulan pada tempat gelap dalam wadah botol, keramik, atau tong kayu.

6. obat- obatan

  • obat ambeien :

sediakan buah sirsak secukupnya lalu kupas kulitnya dan peras daging buahnya. Untuk 1 gelas perasan air buah bias diminum 2 kali sehari.

  • obat beser

sediakan sirsak setengah masak dan gula secukupnya. Daging buah direbus dan dicampur dengan gula lalu saring airnya dan minum secukupnya.

  • obat nyamuk

obat nyamuk dari hasil penelitian Dr. Sugeng Juwono Puwohusoso dari Yogyakarta.

  1. daun dan biji sirsak disuling. Hasilnya berupa infuse (cairan) yang kadar ekstrak racunnya adalah 10 %.

ekstrak tersebut diberikan kepada larva instar III dari nyamuk Aides dan Cules yang direndam dalam 100 ml air. Sari 25 ekor nyamuk tersebut ternyata mati separuhnya.

  1. dari ekstrak daun sirsak : dengan 6,48 ml infuse dalam 100 ml air, 50 % larva mati dalam 24 jam, sedangkan jika 5,5 ml sebanyak 50% mati dalam waktu 48 jam.
  2. dari biji sirsak : nyamuk Aides aegypti yang diberi 6,50 ml infuse ekstrak dalam 100 ml air, 50 % larva mati dalam 24 jam, sedangkan 4,76 ml dalam 100 ml air sebanyak 50 % larva mati dalam waktu 48 jam.

Semua data tersebut masih dalam tahap penelitian , jadi pengembangannya masih memerlukan waktu dan tahapan lebih lanjut.

 

GOOD AGRICULTURAL PRACTICES AS THE KEY OF FOOD SECURITY IN INDONESIA

Filed under: agrinote — aziz13111991 @ 9:33 am

By : Aziz Fauzi

The head team of tasikmalaya delegation

Dear ladies and gentlemen

The Analyst of international symposium on climate change and food security state that today the food prices have been globally spiraling higher due to a range of factors including rising populations, strong demand from developing countries, poor weather and the growing use of bio- fuel while we know that food is truly the power of life, food is absolutely  way of life and food is the style of life,  we are impossible can talk and discuss like this without having good food to our body, we do all activities because of food, shortly every creatures can do nothing without foods. Therefore, I feel this is a vital issue to talk about food security  in Indonesia.

The distinguished ladies and gentlemen

Food security means different thing to different people. It also means being able to get all the healthy food we need and enjoy them with our family, friends and whoever. Moreover, food security includes being able to make living by growing and producing food in ways that protect and support both land – sea and food producers and that ensure there will be healthy food for our children’s children.

Ladies and gentlemen

Can we imagine if our foods we eat are not secure ?

We eat some foods but we do not know they are good for us or not, they are useful or not, they are healthy or not,  maybe we would think several times before eating foods. If this always happens like this, I am sure we would be very stressful. Some families can become pre- occupied with food- worrying all the day about whether there is enough food for dinner and the next day. This kind of stress can be very bad for our relationship and health. Feeling stressed and insecure can lead us to depression, anger, diabetes, high blood pressure. It can also make our body to be harder to fight off infections like cold and flu while both are epidemic illness in our region. Maybe this is the first condition that we would feel if there is not food security in our country.

Beside that, food insecurity also will make bad effect for our children and kids. Because, as we know that poor nutrition in childhood can affect  the development of both the body and mind. If they are not having enough good food can make them to be harder to do well at school and even stay in school. This is very harmful  because we all know that school is the right place to educate our children and to result the qualified human resources. Poor nutrition in childhood also can make their lifetime to be shorter.

In addition, food insecurity can contaminate our air with pesticides and bacteria while we use these air for breathing.

Realizing this, there must be one solution to ensure our food security so that we can life cleanly and safely.

The her excellencies ladies and gentlemen

Food agricultural organization state that , agriculture is expected to assure food security in a range of setting, now and in the future, and is increasingly called upon to produce positive environmental , social, and economic benefits. This challenge is not responded well by almost farmers in Indonesia , because the fact proves that there happens over production of food to answer the demand of fast growing  population, the growing use of pesticide residues and conversion   vast areas of fertile land to non agricultural uses which are limited by poor agricultural resources management practices. According to Mr. Nath these have resulted in unsustainable farming system. This is very harmful, considering pressure of globalization , Indonesian farmers must compete with farmers over world for a share of the market and to stay in business. Realizing this, as FAO firmly believe that Good Agricultural Practices have potential to help adapting to these challenge.

The her excellencies ladies and gentlemen

What is Good Agricultural Practice ?

FAO defines four pillars of Good Agricultural Practices that apply to all scales of farming :

  • Efficient production of sufficient , safe and high quality food and non food products.
  • Sustainable use of natural resources
  • Viability of farming enterprises and contribution to sustainable livelihoods.
  • Responsiveness to the cultural and social demands of society.

Practically speaking GAPs are pre-requisite for a food chain approach to food safety. The concept of good agricultural practices should serve as a reference tool for deciding at each step in the production process on practices that are sustainable as well as safe.

Why  do Good Agricultural Practices go to be our priority for food security ?

Good agricultural practices are currently promoted and used in many part of the world by a range of stakeholders to address diverse needs ,

ü      Governments, international agencies and Non Governmental Organizations  by farmers of sustainable agricultural methods such as integrated pest management, integrated nutrient management or conservation agriculture to help mitigate environmental and society risk in a range of farming systems and contribute to food security and sustainable livelihood.

ü       The food processing and retailing industries use the concept of good agricultural practices in developing codes of practices and criteria contributing mainly to food quality and safety, consumer satisfactions and profits, with the emerging consumer demand for sustainably produced and wholesome food and other products, this trend may incentives for the adoption of good practices by farmers, opening new domestic and export market opportunities, provided farmers have the capacity to respond.

There are a lot of benefits of good agricultural practices to ensure food security in our country Indonesia.

Dear ladies and gentlemen

After knowing the benefits of good agricultural practices , now this is our duty to promote adoption and implementation  of good agricultural practices to our community.

Thank you very much !!

(This text was delivered on ASEAN Model  west java region 2009 by the head team of Tasikmalaya delegation)

head team of tasikmalaya delegation

 

ASEAN INTEGRATED FOOD SECURITY (AIFS) FRAMEWORK AND STRATEGIC PLAN OF ACTION ON FOOD SECURITY IN THE ASEAN REGION (SPA-FS) 2009-2013

Filed under: agrinote — aziz13111991 @ 9:32 am

The sharp increase in international food prices in 2007/2008 has brought serious concern on possible socio- economic impact of ASEAN member states (AMSs). The ASEAN cooperation is highly expected as a means to address the problem especially by strengthening existing ASEAN initiative / measure.

There are a number of factors attributable to current state of the markets for food and agricultural products. On the supply side, the sharp rise of agricultural production cost- led by fuel oil and fertilizers, drop of yield and production resulting from irregular climate patterns, and higher cost of storing perishable goods, among others, contribute substantially to the rise of food prices. On the demand side, structural change of global demand for food commodities and land use for emerging biofuels  market coupled with agricultural market speculation contributed to the soaring food prices.

In response, AMSs have tried to soften the impact particularly the most vulnerable part of population i.e export restrictions, price controls, price subsidies, and import facilitation. However , regardless of the options taken, there are winners and losers from state intervention in the market, either to be more effective at achieving their objectives of protecting consumers or assisting agricultural producers to benefit from rising prices.

Along this line, there is an urgent need to develop a policy framework compromising a strategic pursuit of measures/ action to be developed/ enhanced based on strong commitments and ownership among all Member States in order to ensure long- term food security in the ASEAN region. The special Senior Officials Meeting of 29th Meeting of ASEAN ministers on agriculture and forestry (Special SOM-29th AMAF), held on 5-7 August 2008 in Chiang Mai, discussed the concept note of the ASEAN integrated food security  (AIFS) Framework. The meeting underscored that addressing food security would require, among others, common understanding among the Member States, timely and reliable data and information for policy decision , a long- term agricultural development plan focusing on sustainable food production and trade.

To concretize and elaborate further the AIFS Framework, the Special SOM-29th AMAF established an ad- hoc taskforce to develop a detailed workplan, including a Strategic Plan of Action on Food Security for the ASEAN Region (SPA-FS) for  consideration and endorsement by the AMAF meeting to be submitted for approval by the ASEAN summit in 2008.

 

DEGRADASI PEMINATAN TERHADAP FAKULTAS PERTANIAN

Filed under: agrinote — aziz13111991 @ 9:27 am

Oleh : Aziz Fauzi
Krisis ekonomi yang melanda Negara kita pada tahun 1997 seakan membangunkan kita bahwa betapa rapuhnya pondasi perekonomian yang tidak dilandsi oleh potensi sumber daya lokal.
Sumber daya lokal yang mampu bertahan dalam badai krisis tersebut salah satunya adalag sector pertanian, dengan demikian sector ini memiliki potensi yang besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bangsa. Sebab segala kegiatan yang berada di pedesaan dilakukan dengan terintegrasi dengan pertanian. Karena inilah keahlian mereka yang digunakan dalam mempertahankan hidupnya.
Namun tingkat kesejahteraan petani sampai saat ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini mungkin diakubatkan oleh system pertanian yang digunakan masih konvensional yang berorientasi pada tingginya jumlah produksi sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan itu termasuk penggunaan pestisida yang berlebihan. Penggunaan pestisida ini tanpa disadari akan merusak ekosistem lingkungan , akibatnya lambat laun produktivitasnya menurun sedangkan menurut data rata- rata petani pulau Jawa hanya memiliki lahan 0,3 % dari lahan yang ada.
Dengan melihat kenyataan ini maka menurut Drh.H. Chayan Soyadi,M.Sc,M.M konsep pertanian yang sekarang seharusnya diterapkan adalah system pertanian yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan. Dengan system ini diharapkan akan memperpanjang siklus biologis dengan tidak adanya hasil buangan. Sehingga akan ramah lingkungan dan ekosistem akan terjaga keseimbangannya.
Konsep ini harus segera disosialisasikan kepada masyarakat luas khususnya kepada para petani. Dalam hal ini tentu saja menjadi tanggung jawab para ahli yang bergerak dalam bidang pertanian khususnya para penyuluh pertanian dan calon penyuluh pertanian (mahasiswa fakultas pertanian).
Sehubunga dengan ini banyak para pengamat yang menyatakan kekhawatirannya terhadap keberlangsungan atau regenerasi mahasiswa fakultas pertanian, termasuk yang disampaikan oleh rektor Dr.Ir.Henry,M.Sc IPB bahwa terjadi terjadi degradasi peminatan siswa terhadap fakultas pertanian dalam kelautan dari tahun ke tahun padahal Negara Indonesia dari dulu terkenal sebagai Negara agraris dan maritime. Selain itu berdasarkan data dari panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2009, sebanyak 2894 kursi kosong pada program studi pertanian di 47 perguruan tinggi negeri. Ditambah lagi dari data Departemen Pendidikan Nasional sebanyak 20 perguruan tinggi negeri dan swasta menutup program studi pertanian. Hal ini merupakan masalah yang serius karena pendidikan merupakan ujung tombak dari peningkatan sumber daya manusia termasuk dalam hal mencetak para ahli pertanian nantinya.
Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu terjadi diantaranya adalah :
1. Pertanian dideskriditkan sebagai suatu bidang kajian yang sifatnya primitive dan tidak modern.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta derasnya arus globalisasi telah sedikit banyak mempengaruhi pola pikir (mind set) para siswa yaitu meningkatnya budaya gensi diantar mereka. Mereka mengira bidang kajian pertanian hanyalah sekadar mencangkul, turun ke sawah atau panas- panasan di tengah teriknya matahari dan lapangan pekerjaannya pun akan menjadi seperti itu.
Jika masalahnya adalah budaya gengsi ini maka cara yang sebaiknya ditempuh adalah memperbaiki citra pertanian agar lebih adaptif dan kampanye teknologi pertanian modern untuk menarik kembali minat para siswa terhadap sector pertanian.
2. Kebijakan pemerintah yang lebih mefokuskan pada pendidikan dan kesehatan. Memang tidak ada yang salah dengan kedua lini ini akan tetapi yang perlu diingat adalah bahwa pendidkan yang diamksud adalah termasuk pendidikan pertanian.
Revitalisasi pendidikan pertanian adalah langkah tepat untuk dilaksanakan. Revitalisasi pendidikan pertanian dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan memberikan beasiswa , seperti yang telah dilaksanakan oleh pemerintah provinsi jawa barat dengan program beasiswa satu siklus jenjang S1 dan D3 pertanian.
Dan masih banyak lagi fatro yang mempengaruhi kepeminatan siswa terhadap program studi di fakultas pertanian. Namun kita harus bisa menemukan pemecahan terhadapnya. Sebab menbangun pertanian berarti menyelamatkan bumi, membangun pertanian berarti menjamin ketahanan pangan bangsa dan membangun pertanian sama halnya memajukan perekonomian rakyat.
Akhirnya, kerjasama antar berbagai pihak memang sangat diperlukan dalam menarik kembali atensi dan daya tarik para siswa terhadap fakultas pertanian.
Penulis adalah
mahasiswa kerjasama faperta Unsil-Pemprov Jawa Barat